Portal Kabupaten Sijunjung

Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Lailatul Qadr

Sijunjung. MC. Sijunjung, – Dipekirakan mulai Senin (6/5) lusa, umat Islam yang beriman di seluruh penjuru dunia melaksanakan ibadah puasa 1440 H. Termasuk kaum muslimin dan muslimat Kabupaten Sijunjung, tentunya juga yang beriman.

Kenapa hanya orang yang beriman, karena hanya orang itu yang diseruh oleh Allah SWT untuk menunaikan sahum lewat ayat suci Al Quran, “yaayyuhallazi na’amanu kutibaalaikum mussiham kama kutiba alallazina mingkablikum laallakum tattakun. Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu bersahum (berpuasa) sebagaimana orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertaqwa.

Bila Surat Al Baqarah (ayat 183) ini dicermati, yang diseruh Allah SWT untuk berpuasa, jelas hanya orang yang beriman. Justru itu, kalau nanti ada masyarakat Sijunjung yang tidak menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan 1440 H ini, jangan salahkan mereka, sebab orang itu tidak diseruh oleh Allah SWT, karena tidak beriman.

Ramadhan memang hanya dirindukan oleh orang yang beriman, karena bulan itu sarat dengan kemuliaan dan keagungan serta penuh rahmad dan berkah bila diisi dengan kebajikan dan kebaikan yang penuh perhitungan.

Salah satu kemulian dan keagungan itu, adalah Lailatul Qadr, seperti dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya, ”sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr (QS al-Qadr:1).

Secara harfiyah laila berarti malam. Sedangkan Qadr berarti takaran, ukuran serta sesuatu yang bernilai dan sesuatu yang terbatas. Sebetulnya para ulama beragam dalam mengartikan dan menafsirkannya.

Ada yang menyebutnya dengan malam kemuliaan, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan kitab suci Al Quran yang merupakan sumber kemuliaan manusia, sesuai firman Allah SWT yang artinya “sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kamu. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS al-Anbiyaa:10).

Sebagian ulama juga mengartikan sebagai malam yang sangat bernilai. Sebab pada malam itu ketaatan manusia akan mendapat nilai yang tinggi dan pahala yang besar, yaitu senilai seribu bulan. Bila dihitung dengan kacamata bisnis, keuntungan yang diperoleh 3.000.000 kebaikan (1.000 bulan x 30 hari x 10 kebaikan).

Justru itu, Rasulullah SAW bersabda, “sesunguhnya bulan Ramadhan telah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan dari malam tersebut, berarti ia telah diharamkan dari semua kebaikan, dan tidak ada yang diharamkannya melainkan orang-orang yang benar-benar merugi.” (HR Ibnu Majah dengan Sanad Hasan).

Cukup banyak sebenarnya ayat dan hadist yang menyebutkan keutamaan dan keagungan Lailatul Qadr, baik secara tersurat maupun tersirat. Diantaranya, Lailatul Qadr nilainya lebih baik dari seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam itu jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan (QS al-Qadr:3).

Malam Lailatul Qadr, penuh dengan keberkahan. Sesuia firman Allah SWT, “sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran pada malam yang penuh dengan keberkahan,” (QS al-Dukhaan:3).

Selain itu Rasulullah SAW juga bersabdah, “barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadr dengan ibadah semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari).

Keutamaan lain, malam Lailatul Qadr adalah malam dimana para malaikat turun ke dunia untuk memberikan salam kepada hamba Allah yang taat beribadah. (QS al-Qadr:5).

Bila hadist-hadist Nabi Muhammad SAW disimpulkan, Lailatul Qadr terjadi setiap tahun pada Bulan Suci Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir, lebih utamanya pada malam ganjil, yaitu 21, 23, 25, 27 dan malam ke-29. Lebih utama lagi pada malam ke-27.

Disamping itu, malam Jumat yang jatuh pada hitungan ganjil, juga perlu dijaga dan diwaspadai, karena hari Jumat adalah Sayyidul Ayyaam (penghulu hari-hari) dan Yaumul Ied (hari raya) mingguan.

Tanda-tanda Lailatul Qadr, sesuai sabda Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi, “saat terjadinya Lailatul Qadr, malam terlihat jernih, terang dan tenang serta cuaca sejuk. Tidak terasa panas dan tidak terasa dingin. Pada pagi hari matahari terbit terang benderang tanpa ada awan yang menutupi.”

Masalahnya sekarang, siapa orang yang mungkin akan memperoleh kesempatan untuk mendapat malam Lailatul Qadr itu? Tentu orang yang beriman, karena sesuai surat Al Baqarah ayat 183, yang diseruh Allah SWT untuk berpuasa, hanyalah orang yang beriman.

“Mungkinkah orang yang tidak diseruh Allah SWT, karena tidak beriman, memperoleh malam Lailatul Qadr? Marilah kita bertanya kepada rumput yang bergoyang, mungkin disana ada jawabnya.”

Kepada orang yang beriman diucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita semuan diberkahi serta diampuni oleh Allah SWT. Aamiin Ya Rabal alamin. –nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.