Portal Kabupaten Sijunjung

MENGAPA MATEMATIKA MASIH MENAKUTKAN ?

Fitria Yunita,S.Pd
( Guru Matematika SMP N 13 Sijunjung )

Matematika adalah mata pelajaran yang masih dianggap menakutkan oleh sebagian besar siswa sampai sekarang, hal ini bisa dilihat dari masih menjadi sorotan nilai rata-rata matematikalah yang paling rendah dalam hasil Ujian, baik itu ujian semester, ujian sekolah, maupun ujian nasional, minimnya siswa yang lebih memilih ektrakurikuler bidang matematika, tingkat pemahaman siswa yang masih rendah dalam belajar matematika. Ada apa dengan matematika ? Apa yang harus diperbaiki dalam matematika sehingga memperoleh hasil yang baik dan menjadi pelajaran yang sangat digemari siswa ?
Menurut Goldin (1992), matematika dibangun dan ditemukan oleh manusia sehingga dalam pembelajaran matematika harus lebih dibangun oleh siswa dari pada ditanamkan oleh guru. Pembelajaran matematika lebih aktif bila guru membantu siswa menemukan dan memecahkan masalah dengan menerapkan pembelajaran bermakna. Heuvel-Panhuizen (1998) dan Vercaffel-De Corte ( 1977) juga menyatakan pendapatnya bahwa Pendidikan matematika seharusnya memberi kesempatan kepada siswa untuk “menemukan Kembali” dengan berbuat matematika. Pembelajaran matematika harus mampu memberi siswa situasi masalah yang dapat dibayangkan atau mempunyai hubungan dengan dunia nyata. Lebih lanjut mereka menemukan adanya kecendrungan kuat bahwa dalam memecahkan masalah dunia nyata siswa tergantung pada pengetahuan yang dimiliki siswa tentang dunia nyata tersebut. Sedangkan pendapat Kolb ( 1949), proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan atau yang dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui transformasi pengalaman individu siswa. Pendapat kolb ini menekankan intinya bahwa dalam belajar, siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya mengkontruksi sendiri pengetahuan yang dipelajari dan siswa harus didorong untuk aktif berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah belajar tentang rangkaian-rangkaian pengertian (konsep) dan rangkaian pertanyaan-pertanyaan (sifat, teorema, dalil, prinsip). Untuk mengungkapkan tentang pengertian dan pernyataan diciptakan lambang-lambang, nama-nama, istilah dan perjanjian-perjanjian (fakta). Sumber bacaan : Herman, Hudoyo, 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang : IKIP Malang.
Intinya dalam belajar matematika, siswa harus dihadapkan pada masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari dan siswalah yang berperan aktif pada saat pembelajaran, sehingga akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa akan ilmu matematika yang dipelajarinya tersebut. Hal ini bisa diatasi dengan menerapkan model-model pembelajaran matematika yang cocok dengan kondisi siswa. Misalnya model pembelajaran Problem Based Learning ( PBL ), model pembelajaran Inkuiri, Contekstual Teaching Learning ( CTL ), dan masih banyak pilihan model pembelajaran lainnya yang bisa diterapkan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Selain itu, faktor yang harus diperbaiki dalam proses belajar matematika adalah peranan guru dalam memfasilitasi siswa belajar matematika di dalam kelas ataupun di luar kelas. Jadi, belajar matematika tidak mutlak harus di dalam kelas, sesekali guru bisa membuat suasana belajar matematika yang baru dan seru, misalnya saat belajar himpunan, siswa bisa diajak mengelompokkan objek- objek yang ada di lingkungan sekolah. Pada materi statistika, siswa diajak untuk mengamati banyaknya kendaraan yang melintasi jalan dan membuatkan ke dalam masing-masing bentuk diagramnya, atau pada materi bangun datar atau bangun ruang, siswa bisa mencari benda disekelilingnya yang berbentuk bangun datar atau bangun ruang dan siswa bisa mencari berapa luas permukaan dan volumenya. Namun bukan berarti belajar matematika akan menyenangkan apabila prosesnya dilakukan di luar kelas. Di dalam kelaspun, guru bisa menjadikan matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan. Tentunya dengan memvariasikan model pembelajaran tadi.
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam menjadikan matematika itu menyenangkan adalah karakter guru matematika yang sudah jadi warisan budaya sejak dulu yang menakutkan, bahwasanya seorang guru matematika biasanya pemarah, serius dan pendiam. Untuk bisa membuat matematika menyenangkan, guru matematika harus bisa sabar dalam menghadapi beragam tingkat pemahaman siswanya, tidak jarang guru matematika harus berulang-ulang untuk menjelaskan kembali suatu materi agar siswanya paham atau guru sering kali membimbing siswa agar mereka mampu menemukan konsep yang dimaksudkan. Memang sudah menjadi suatu keharusan agar dalam pembelajaran matematika guru harus serius, namun tidak sepanjang proses berlangsung, terkadang keseriusan guru membawa siswa terhanyut dalam rasa yang tidak nyaman, proses pembelajaran menegangkan, suasana kelas mencekam, sehingga cara berpikir siswa akan menjadi terbatas dan tidak berkembang, ada kalanya keseriusan tadi diselingi dengan humor yang mendidik, candaaan yang bisa membuat siswa tersenyum dan merasa nyaman atau setidaknya bisa membawa suasana kelas menjadi menyenangkan dan terkendali. Satu lagi faktor yang membuat matematika masih menakutkan adalah sifat gurunya yang pendiam. Biasanya kalau gurunya tidak komunikatif alias pendiam, akan membuat siswanya enggan untuk menanyakan hal-hal yang dianggapnya sulit dalam pembelajaran. Siswa akan menyimpan dalam-dalam materi yang kurang dipahaminya tadi, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil belajarnya nanti, esok, dan seterusnya, sehingga tertanamlah dalam hati siswa “ matematika itu menakutkan! ”. Jadi guru yang sifat dasarnya seorang yang pendiam, tidak ada salahnya sedikit merubah sifatnya itu saat pembelajaran berlangsung, jadilah guru yang komunikatif dengan siswanya, sehingga akan memberi rasa nyaman pada siswa dalam [email protected]

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.