Portal Kabupaten Sijunjung

SEORANG ANAK BERCITA CITA JADI HP

Pada sebuah lokal kelas II Sekolah Dasar (SD), seorang ibu guru menanyakan cita-cita kepada muridnya. Dari beragam jawaban murid, sebagian besar mengagumkan dan membagakan sang guru. Namun ada juga yang menggelikan dan mengagetkan.

 

Kenapa ibu guru yang bertanya kagum dan bangga serta geli dan kaget mendengar jawaban beragam dari para muridnya?, baca, cermati dan hayatilah dialok guru dengan murid di bawah ini.

 

“Ismail. Kalau kamu sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?,” tanya ibu guru kepada muridnya Ismail. “Jadi ulama besar buk,” jawab Ismail pasti.

 

“Apa alasannya,” tanya sang ibuk. “Saya bisa berdakwa dari masjid ke masjid mensyiarkan Islam menegakan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Imbalan yang saya terima bisa saya belanjakan nanti di Kampung Akhirat yang kekal dan abadi,” jelas Ismail seperti buya berceramah. “Bagus. Cita-cita yang suci dan mulia. Semoga terkabul,” doa ibu guru.

 

“Kalau kamu Rini? Mau jadi apa setelah besar nanti?” Jadi perawat buk”. “Kenapa memilih jadi perawat”. “Supaya bisa menolong dan membantu orang yang sedang sakit,” jawab Rini. “Bagus. Cita-cita yang juga suci dan mulia,” komentar sang guru.

 

“Rendy. Cita-cita kamu setelah besar nanti mau jadi apa?, tanya ibu guru kepada Rendy. “Aku mau jadi polisi buk. Aku ingin memberantas segala kejahatan yang terjadi di kampung ini,” jawab dan jelas Rendy. “Hebat. Rajinlah belajar. Siapkan pisik dan mental, karena seorang polisi membutuhkan pisik dan metal yang kuat, jelas ibu guru.

 

“Alya. Cita-cita kamu apa?” Saya ingin jadi guru seperti ibuk supaya bisa membuat orang tidak tau apa-apa menjadi tau dan berilmu serta bisa menerima gaji setiap bulan,” jawab Alya yang putri seorang guru. “Bagus. Rajinlah belajar supaya kamu bisa menggantikan ibuk dan ibumu,” pesan sang guru.

 

“Rio. Kalau kamu, setelah besar nanti mau jadi apa? Apa cita-citamu? “Saya mau jadi HP buk”. Jawab Rio dengan suara lantang sambil berdiri dari tempat duduknya. Jawaban Rio dengan nada keras dan agak emosi, spontan mengundang gelaktawa seluruh murid di kelas II itu.

 

Dengan rasa geli dan kaget, ibu guru menanyakan kenapa Rio ingin jadi HP. “Kok kamu ingin jadi HP Rio? HP itu kan benda mati yang tidak bisa bergerak tanpa digerakan manusia?, kata ibu guru penuh tandatanya.

 

“Sekarang semua orang menyayangi HP buk. Ibu bapak saya saja, bangun tidur yang pertama dicari adalah HP. Begitu ketemu, HP dibelai dan diusap. Terus begitu sepanjang siang dan malam. Sedangkan saya dicuekin. Makanya saya memilih jadi HP dari pada jadi manusia supaya selalu dicari, dibelai dan diusap,” jelas Rio dengan suara serak dan mata berkaca-kaca, pantulan dari emosi dan sedih yang berkecamuk di dadanya.

 

Menyimak penjelasan Rio, murid kelas II yang ketika mendengar jawaban Rio tertawa terpingkal-pingkal, seluruhnya diam dan hening seribu bahasa. Sementara ibu guru yang bertanya juga tidak berkata apa-apa. Hanya air matanya yang tampak berlinang. Terbawa arus kesedihan yang dirasakan Rio.

 

Bangun tidur  yang pertama dicari oleh kedua orangtua adalah HP. Begitu ketemu, HP dibelai dan diusap. Terus begitu sepanjang siang dan malam. Kondisi itu bukan hanya jawaban dan penjelasan Rio yang baru duduk di kelas II SD. Tapi memang itulah fakta dan kenyataan di zaman sekarang.

 

Sekarang manusia sudah dikuasai Ilmu Teknologi (IT), bukan manusia yang menguasai IT, sehingga dimana-mana yang asyik bermain HP tidak hanya anak-anak dan remaja, tapi orangtua, pegawai dan pejabat juga larut dengan HP, sehingga di kantor Aparatur Sipil Negara (ASN) itu lebih sering memegang HP dari memegang pena.

 

Tidak hanya itu. Sudah menjadi pemandangan biasa. Satu keluarga yang terdiri sepasang suami isteri dan dua putra putrinya, saat berada di rumah makan untuk makan bersama, sebelum nasi terletak di meja, keempatnya asyik dengan HP-nya masing. Satu sama lain tidak saling berpandangan, apa lagi berdialok.

 

Fenomena satu keluarga di rumah makan ini menggambarkan bahwa HP yang berada digenggaman manusia bisa mendekatkan yang jauh dan bisa menjauhkan yang dekat. ‘Menjauhkan yang dekat’ fenomena yang sangat berbahaya tentunya.

 

Tidak itu saja. Gara-gara HP berada di genggaman, sebagian kaum mulimin dan muslimat sering lalai menunaikan kewajiban selaku umat Islam. Azan sudah berkumandang di masjid dan di mushalla, mereka masih asyik memainkan HP androidnya.

 

Lebih ironis lagi, pimpinan setingkat walikota, bupati dan gubernur berpidato berapi-api menjelaskan kegiatan dan program pembangunan yang telah, sedang dan akan dilakukan di daerahnya. Sementara pegawai dan masyarakat yang diharapkan mampu mencerna dan mengerti isi pidato, asyik bermain HP. Ironis memang.

 

Karena itu, bagi para orangtua yang tidak ingin anaknya bercita-cita menjadi HP, pandai-pandailah membagi waktu. Kapan untuk anak dan keluarga. Jangan mata dan utak sepanjang siang dan malam tertuju pada HP. nas@sijunjung.go.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.